Mengapa atavisme, kritomeri, polimeri, komplementer, hipostasis, dan epistasis disebut penyimpangan semu hukum Mendel?
Keenam pola tersebut disebut penyimpangan semu hukum Mendel karena hasil persilangannya tampak menyimpang dari rasio fenotipe Mendel (3:1 atau 9:3:3:1), tetapi sebenarnya masih mematuhi hukum pewarisan gen. Perbedaan hasil terjadi karena adanya interaksi antar gen, bukan karena pelanggaran hukum Mendel itu sendiri.
Kesimpulan: Disebut penyimpangan semu karena gen tetap diturunkan sesuai hukum Mendel, namun hasil fenotipe tampak berbeda akibat interaksi antar gen dalam satu individu.