Latihan Soal Pilar Negara TWK SKD CPNS dan Pembahasan Lengkap (Paket 4)

Berikut ini contoh soal latihan Pilar Negara TWK SKD CPNS - paket 4 yang sudah dilengkapi pembahasan. Semangat belajar! ✨

1

Dengan alasan telah terjadinya kekosongan hukum, DPR mengajukan RUU yang didukung oleh dua fraksi dalam DPR. Dari segi yuridis apabila RUU tersebut lolos dan menjadi undang-undang, konsekuensinya adalah ...

  1. Batal demi hukum karena secara politis sebenarnya tingkat dukungan kecil
  2. Sah asal kedua fraksi pendukung tersebut merupakan dua fraksi terbesar di DPR
  3. Sah asal melalui pembahasan dan melibatkan unsur pemerintah sesuai dengan ketentuan
  4. Sah asal agenda tersebut sudah ada di dalam program legislasi nasional pada tahun itu
  5. Tidak ada konsekuensi yuridis, kecuali rakyat yg menggugatnya secara masif
Jawaban : c

Dalam proses pembentukan undang-undang di Indonesia, Rancangan Undang-Undang (RUU) dapat diajukan oleh DPR atau Presiden. RUU yang diajukan oleh DPR perlu melalui pembahasan dengan pemerintah (Presiden atau pihak yang mewakilinya, seperti kementerian terkait) untuk dapat disahkan menjadi undang-undang. Salah satu syarat sahnya RUU menjadi undang-undang adalah melalui pembahasan bersama antara DPR dan pemerintah, sesuai dengan prosedur yang diatur dalam undang-undang yang mengatur tentang pembentukan peraturan perundang-undangan.

Berikut analisis dari setiap opsi:

  • a. Batal demi hukum karena secara politis sebenarnya tingkat dukungan kecil
    Pernyataan ini tidak tepat. Sah atau tidaknya undang-undang ditentukan oleh prosedur yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, bukan semata-mata oleh tingkat dukungan politis di DPR. Jika sudah sesuai prosedur, undang-undang tetap sah meskipun didukung oleh fraksi minoritas.

  • b. Sah asal kedua fraksi pendukung tersebut merupakan dua fraksi terbesar di DPR
    Jumlah dan ukuran fraksi yang mendukung tidak memengaruhi keabsahan yuridis dari undang-undang. Yang lebih penting adalah bahwa proses pembahasan dilakukan sesuai dengan prosedur resmi, termasuk melibatkan pemerintah.

  • c. Sah asal melalui pembahasan dan melibatkan unsur pemerintah sesuai dengan ketentuan
    Ini adalah jawaban yang tepat. Agar RUU yang diajukan oleh DPR sah menjadi undang-undang, prosesnya harus melibatkan unsur pemerintah dalam pembahasan. Syarat ini sesuai dengan ketentuan dalam sistem legislatif Indonesia dan menunjukkan bahwa undang-undang tersebut telah melalui prosedur yuridis yang benar.

  • d. Sah asal agenda tersebut sudah ada di dalam program legislasi nasional pada tahun itu
    Meskipun RUU yang ada dalam program legislasi nasional (Prolegnas) memiliki prioritas untuk dibahas, keberadaan dalam Prolegnas tidak otomatis membuat RUU tersebut sah sebagai undang-undang. Prosedur pembahasan dengan pemerintah tetap harus diikuti.

  • e. Tidak ada konsekuensi yuridis, kecuali rakyat yg menggugatnya secara masif
    Pernyataan ini tidak tepat karena keabsahan yuridis RUU yang menjadi undang-undang bergantung pada prosedur pembahasan sesuai ketentuan hukum, bukan pada besarnya dukungan rakyat atau potensi gugatan.

Dengan demikian, jawaban yang paling tepat adalah c, karena agar RUU yang diajukan DPR sah menjadi undang-undang, harus melalui pembahasan resmi dengan melibatkan unsur pemerintah, sesuai ketentuan dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan.

2

Tahun 1960, karena DPR tidak menyetujui rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara yang diajukan oleh pemerintah, presiden membubarkan DPR hasil pemilu 1955 dan kemudian membentuk DPR Gotong Royong (DPR GR) . Jika dibandingkan dengan ketentuan UUD NKRI 1945 perubahan, hubungan presiden dengan DPR adalah ...

  1. Presiden dapat membubarkan DPR
  2. Presiden tidak dapat membubarkan DPR
  3. Presiden bertanggung jawab kepada DPR
  4. DPR dapat meminta pertanggung jawaban presiden
  5. Presiden dan DPR saling mengawasi
Jawaban : b

Peristiwa pada tahun 1960 menunjukkan bahwa Presiden Soekarno membubarkan DPR yang tidak menyetujui rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang diajukan pemerintah. Langkah ini menunjukkan relasi kekuasaan yang berbeda dengan sistem ketatanegaraan Indonesia setelah amandemen UUD 1945. Setelah amandemen, UUD 1945 mengatur bahwa presiden tidak memiliki kewenangan untuk membubarkan DPR, mencerminkan prinsip checks and balances di antara lembaga-lembaga negara.

Hubungan antara presiden dan DPR diatur sedemikian rupa untuk memastikan bahwa masing-masing lembaga menjalankan fungsinya secara mandiri. Dalam sistem presidensial yang dianut Indonesia setelah amandemen UUD 1945, presiden dipilih langsung oleh rakyat dan tidak dapat dibubarkan oleh DPR, dan sebaliknya, DPR tidak dapat dibubarkan oleh presiden. Hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilan pemerintahan dan memastikan bahwa lembaga eksekutif dan legislatif beroperasi secara independen.

Mari kita analisis setiap opsi:

  • a. Presiden dapat membubarkan DPR
    Pernyataan ini tidak sesuai dengan ketentuan dalam UUD 1945 hasil amandemen, di mana presiden tidak memiliki kewenangan untuk membubarkan DPR. Ini merupakan salah satu prinsip penting dalam sistem presidensial yang mengedepankan pemisahan kekuasaan antara eksekutif dan legislatif.

  • b. Presiden tidak dapat membubarkan DPR
    Pernyataan ini benar. Setelah amandemen UUD 1945, sistem ketatanegaraan Indonesia tidak memberikan wewenang kepada presiden untuk membubarkan DPR. Ini memastikan bahwa masing-masing lembaga menjalankan peran dan fungsinya tanpa intervensi yang merusak prinsip demokrasi.

  • c. Presiden bertanggung jawab kepada DPR
    Pernyataan ini kurang tepat. Dalam sistem presidensial, presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR, melainkan kepada rakyat yang memilihnya secara langsung. Namun, DPR dapat mengawasi pelaksanaan tugas presiden.

  • d. DPR dapat meminta pertanggungjawaban presiden
    Pernyataan ini kurang akurat. Meskipun DPR memiliki fungsi pengawasan dan dapat memberikan rekomendasi atau menyampaikan pandangan terhadap kebijakan presiden, presiden tidak bertanggung jawab langsung kepada DPR dalam sistem presidensial.

  • e. Presiden dan DPR saling mengawasi
    Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, karena hubungan pengawasan dalam sistem presidensial lebih pada fungsi pengawasan DPR terhadap presiden. Presiden tidak memiliki wewenang mengawasi atau membubarkan DPR, namun mereka tetap memiliki hubungan kerja sama dan pengawasan dalam fungsi checks and balances.

Dengan demikian, jawaban yang paling tepat adalah b, karena sesuai dengan ketentuan UUD 1945 hasil amandemen, presiden tidak memiliki kewenangan untuk membubarkan DPR, yang merupakan bentuk penerapan prinsip checks and balances antara eksekutif dan legislatif.

3

Pemilihan kepala daerah sebagai representasi demokrasi yang terjadinya di daerah perlu diatur pelaksanaannya dalam sebuah peraturan perundang-undangan. Berikut ini merupakan salah satu dampak yang terjadinya jika para legislator tidak memperhatikan UUD 1945 dalam menyusun perundang-undangan tentang pemilihan kepala daerah yaitu ...

  1. Kepala daerah akan diuntungkan dengan adanya kelonggaran aturan dalam pilkada
  2. Pelaksanaan pemilihan kepala daerah tidak dapat berjalan dengan demokrasi dan adil
  3. Terjadinya konflik yang berkelanjutan antarpendukung kepala daerah dalam pilkada
  4. Legislator menjadi pihak pertama yang harus bertanggung jawab jika terjadinya konflik
  5. Pemilihan kepala daerah dapat berjalan dmeokratis karena sesuai keinginan legislator
Jawaban : b

Pemilihan kepala daerah (pilkada) adalah bagian penting dari proses demokrasi di tingkat daerah. Agar pilkada dapat berjalan secara demokratis dan adil, peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaannya harus sesuai dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam UUD 1945. UUD 1945 menekankan pentingnya demokrasi, keadilan, dan keterwakilan dalam proses politik, termasuk dalam pemilihan kepala daerah.

Jika para legislator tidak memperhatikan UUD 1945 dalam menyusun undang-undang tentang pilkada, maka aturan tersebut mungkin tidak sejalan dengan prinsip-prinsip dasar demokrasi yang diamanatkan oleh konstitusi. Hal ini dapat menyebabkan pelaksanaan pilkada menjadi tidak demokratis atau tidak adil, misalnya melalui adanya ketidakseimbangan dalam akses informasi, peraturan yang bias, atau ketidakjelasan aturan yang menghambat keterlibatan semua pihak secara setara.

Mari kita analisis setiap opsi:

  • a. Kepala daerah akan diuntungkan dengan adanya kelonggaran aturan dalam pilkada
    Pernyataan ini tidak sepenuhnya tepat. Meskipun kelonggaran aturan bisa menguntungkan calon tertentu, ini tidak mencerminkan dampak utama dari penyusunan undang-undang yang tidak memperhatikan UUD 1945. Fokus utama adalah pada ketidakadilan dan ketidaksesuaian dengan prinsip demokrasi.

  • b. Pelaksanaan pemilihan kepala daerah tidak dapat berjalan dengan demokrasi dan adil
    Pernyataan ini tepat. Jika undang-undang yang mengatur pilkada tidak sesuai dengan prinsip demokrasi yang diatur dalam UUD 1945, maka pelaksanaan pilkada berpotensi tidak berjalan demokratis dan adil. Hal ini mencerminkan dampak utama dari pengabaian prinsip konstitusional dalam peraturan yang dibuat.

  • c. Terjadinya konflik yang berkelanjutan antarpendukung kepala daerah dalam pilkada
    Meskipun konflik dapat terjadi akibat aturan yang tidak jelas atau tidak adil, konflik antarpendukung bukanlah dampak langsung dari tidak diperhatikannya UUD 1945. Ketidakadilan dalam peraturan lebih langsung berdampak pada jalannya pilkada itu sendiri.

  • d. Legislator menjadi pihak pertama yang harus bertanggung jawab jika terjadinya konflik
    Pernyataan ini tidak sepenuhnya akurat. Legislator memang bertanggung jawab untuk menyusun undang-undang yang adil, tetapi pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pilkada biasanya melibatkan komisi pemilihan dan pihak terkait lainnya. Fokus utama adalah pada dampak ketidakadilan dan ketidakdemokratisan pilkada itu sendiri.

  • e. Pemilihan kepala daerah dapat berjalan demokratis karena sesuai keinginan legislator
    Pernyataan ini tidak sesuai dengan pertanyaan. Pemilihan kepala daerah yang sesuai dengan keinginan legislator belum tentu mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam UUD 1945. Sebaliknya, pentingnya mengikuti UUD 1945 adalah untuk memastikan bahwa pilkada berjalan sesuai prinsip demokrasi dan keadilan.

Dengan demikian, jawaban yang paling tepat adalah b, karena jika undang-undang tentang pemilihan kepala daerah tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi dalam UUD 1945, maka pelaksanaannya berpotensi tidak berjalan secara demokratis dan adil, yang merupakan dampak langsung dari penyusunan peraturan yang tidak memperhatikan konstitusi.

4

Pemilihan umum merupakan salah satu bidang yang diatur dalam UUD RI 1945 pasal 22E. Alasan pentingnya pemilihan umum diatur dalam konstitusi adalah ...

  1. Pelaksanaan pemilihan umum akan menghasilkan pemimpin yang kredibel
  2. Proses demokrasi merupakan proses panjang dan perlu diatur dengan jelas
  3. Pemilihan umum merupakan cerminan Indonesia sebagai Negara demokrasi
  4. Demokrasi langsung harus tercermin dalam pelaksanaan pemilu
  5. Pemilihan umum merupakan agenda demokrasi yang memerlukan biaya besar
Jawaban : c

Pasal 22E UUD 1945 mengatur mengenai pemilihan umum sebagai bagian fundamental dari sistem demokrasi di Indonesia. Alasan utama pemilihan umum diatur dalam konstitusi adalah karena pemilu merupakan salah satu pilar utama dalam demokrasi, di mana rakyat berdaulat untuk memilih pemimpin dan wakil mereka. Pemilu memungkinkan rakyat untuk secara langsung berpartisipasi dalam pembentukan pemerintahan yang akan mengelola negara sesuai dengan aspirasi masyarakat.

Dengan adanya ketentuan tentang pemilu dalam konstitusi, Indonesia menegaskan jati dirinya sebagai negara demokrasi, di mana kedaulatan rakyat diwujudkan melalui pemilihan umum yang bebas, adil, dan transparan.

Mari kita analisis setiap opsi:

  • a. Pelaksanaan pemilihan umum akan menghasilkan pemimpin yang kredibel
    Meskipun benar bahwa pemilu dapat menghasilkan pemimpin yang kredibel, tujuan utama pengaturan pemilu dalam UUD 1945 adalah untuk menjamin pelaksanaan demokrasi, bukan semata-mata untuk menghasilkan pemimpin yang kredibel.

  • b. Proses demokrasi merupakan proses panjang dan perlu diatur dengan jelas
    Pernyataan ini benar, tetapi tidak secara spesifik menjelaskan alasan utama mengapa pemilu diatur dalam konstitusi. Pengaturan pemilu lebih dimaksudkan untuk memastikan pelaksanaan demokrasi, bukan sekadar karena prosesnya panjang atau kompleks.

  • c. Pemilihan umum merupakan cerminan Indonesia sebagai Negara demokrasi
    Pernyataan ini paling tepat. Pemilu merupakan bentuk nyata dari demokrasi di mana rakyat memiliki kedaulatan untuk memilih pemimpin dan wakil mereka. Dengan mengatur pemilu dalam konstitusi, Indonesia menegaskan komitmennya sebagai negara demokrasi yang menjunjung tinggi prinsip kedaulatan rakyat.

  • d. Demokrasi langsung harus tercermin dalam pelaksanaan pemilu
    Meskipun pemilu adalah salah satu bentuk demokrasi langsung, bukan hanya demokrasi langsung yang tercermin dalam pemilu. Demokrasi juga bisa diterapkan melalui berbagai mekanisme representasi, dan alasan utama pemilu diatur dalam konstitusi adalah untuk memastikan keterwakilan rakyat.

  • e. Pemilihan umum merupakan agenda demokrasi yang memerlukan biaya besar
    Walaupun benar bahwa pemilu memerlukan biaya besar, biaya bukanlah alasan utama diaturnya pemilu dalam konstitusi. Fokus konstitusi adalah pada prinsip-prinsip demokrasi, bukan aspek finansial.

Dengan demikian, jawaban yang paling tepat adalah c, karena pemilihan umum diatur dalam konstitusi sebagai bentuk cerminan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi yang menghormati prinsip kedaulatan rakyat melalui pemilihan pemimpin secara langsung dan adil.

5

Salah satu lembaga Negara yang diatur setelah amandemen UUD 1945 adalah DPD. Salah satu alasan DPD dibentuk adalah ...

  1. Penguatan pelaksanaan otonomi daerah
  2. Penyeimbang pelaksanaan fungsi legislasi DPR
  3. Penerapan fungsi check and balance di parlemen
  4. Percepatan pembangunan ekonomi di daerah
  5. Penyerapan aspirasi rakyat di daerah
Jawaban : e

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dibentuk setelah amandemen UUD 1945 untuk mewakili kepentingan daerah di tingkat nasional. Salah satu alasan utama pembentukan DPD adalah untuk menyerap dan menyampaikan aspirasi rakyat di daerah kepada pemerintah pusat. DPD memiliki peran dalam proses legislasi yang berkaitan dengan kepentingan daerah, seperti undang-undang yang mengatur otonomi daerah, perimbangan keuangan pusat dan daerah, serta pengelolaan sumber daya alam.

Dengan adanya DPD, diharapkan ada representasi yang lebih kuat dari daerah-daerah di seluruh Indonesia, sehingga aspirasi dan kebutuhan spesifik dari berbagai wilayah dapat didengar dan diperhatikan dalam perumusan kebijakan nasional.

Mari kita analisis setiap opsi:

  • a. Penguatan pelaksanaan otonomi daerah
    Meskipun DPD terlibat dalam legislasi yang terkait dengan otonomi daerah, fungsi utama DPD adalah untuk menyerap aspirasi daerah, bukan secara langsung memperkuat pelaksanaan otonomi daerah. Otonomi daerah diatur melalui undang-undang yang melibatkan peran DPD dalam proses pembahasannya.

  • b. Penyeimbang pelaksanaan fungsi legislasi DPR
    DPD memiliki peran dalam fungsi legislasi, tetapi tidak berfungsi sebagai penyeimbang utama DPR. DPR tetap memiliki kewenangan yang lebih besar dalam pembuatan undang-undang, sementara DPD hanya memberikan pertimbangan untuk undang-undang tertentu dan tidak memiliki hak veto.

  • c. Penerapan fungsi check and balance di parlemen
    Meskipun DPD bisa memberikan masukan dalam proses legislasi, fungsi utama check and balance di parlemen lebih berlaku antara DPR dan lembaga eksekutif. DPD bukanlah lembaga yang secara langsung berfungsi untuk mengawasi DPR, tetapi lebih fokus pada representasi daerah.

  • d. Percepatan pembangunan ekonomi di daerah
    DPD berperan dalam menyuarakan kebutuhan daerah, yang secara tidak langsung dapat mendukung pembangunan ekonomi daerah. Namun, percepatan pembangunan ekonomi bukanlah alasan utama pembentukan DPD.

  • e. Penyerapan aspirasi rakyat di daerah
    Pernyataan ini adalah jawaban yang paling tepat. DPD dibentuk dengan tujuan utama untuk menampung dan menyampaikan aspirasi masyarakat di daerah ke pemerintah pusat, serta memastikan bahwa kebijakan nasional mempertimbangkan kepentingan seluruh wilayah di Indonesia.

Dengan demikian, jawaban yang paling tepat adalah e, karena DPD berperan penting dalam menyerap aspirasi daerah untuk memastikan representasi kepentingan wilayah di tingkat nasional dan memperkuat sistem perwakilan daerah dalam parlemen.

Demikian kumpulan contoh soal dan pembahasan Pilar Negara TWK SKD CPNS paket 4. Silahkan pelajari paket soal lainnya supaya kamu makin terbiasa dengan tipe soal CPNS yang sering muncul.

Jika ada soal yang belum dipahami, silakan pelajari kembali materinya ya. Atau bagikan artikel ini ke teman-teman kamu, biar kita bisa belajar bareng.

Materi TWK
Materi TIU
Materi TKP
Soal TWK
Soal TIU
Soal TKP

Kategori
CPNS SKD TWK Pilar Negara

Berbagi itu indah

Gimana kesanmu sama konten ini?