Berikut ini kumpulan contoh soal dan pembahasan TIU SKD CPNS - paket 91. Semangat belajar!
Sembilan wakil Indonesia dipastikan siap bertanding di India Open Super Series 2016. Turnamen bergengsi itu akan dihelat di Siri Fort Indoor Stadium pada 29 Maret-3 April 2016. Kontingen Merah Putih mengirimkan dua tunggal putra Tommy Sugiarto dan Sony Dwi Kuncoro dan dua tunggal putri Linda Wenifanetri dan Maria Febe Kusumastuti. Di sektor ganda putri ada Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari dan Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi. "Kami sudah siap tampil dan ingin memberikan yang terbaik. Jangan cepat menyerah. Kami akan berusaha mengeluarkan permainan maksimal," kata pebulu tangkis Indonesia Ni Ketut seperti dikutip Badminton Indonesia, Selasa (29/3/2016). Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon menjadi tumpuan Indonesia di sektor ganda putra. Di sektor ganda campuran, Indonesia hanya menempatkan satu wakil, yakni Riky Widianto/Richi Puspita Dili. Indonesia memiliki catatan kurang apik pada gelaran India Open Super Series tahun lalu. Ketika itu, tidak ada wakil Indonesia yang mampu menembus babak final. Indonesia hanya menjadi semifinalis yang diwakili Tommy Sugiarto, Praveen Jordan/Debby Susanto, dan Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja. (Badmintonindonesia) (Sumber: http://olahraga.metrotvnews.com tanggal 29 Maret 2016)
Kata berimbuhan yang bercetak tebal dalam wacana di atas memiliki makna ....
- Membuat jadi-
- Melakukan pekerjaan untuk orang lain
- Memasukkan orang ke-
- Sesuatu yang di-
- Hal/keadaan-
Kata berimbuhan per-, dan -an pada kata permainan memiliki makna hal/keadaan main.
Wajah bocah bernama Sandi (12) itu pucat. Kepada Liputan6.com, ia mengaku sedang sakit. Namun, siswa kelas 5 SD Katangka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu tidak bisa beristirahat karena takut ibunya marah. Sandi menuturkan sang ibu, Hasni, menyuruhnya berjualan buku-buku agama sepulang sekolah setiap hari. Jika menolak, pukulan tongkat kayu akan mendarat di tubuhnya. Karena membayangkan rasa sakit, ia tak berani pulang ke rumah sebelum pukul 22.00 WITA. "Mama tidak tahu saya sakit. Jadi pas pulang sekolah tadi, saya langsung ganti baju lalu pergi. Tawari orang buku. Karena kalau tidak pergi cari uang, langsung dipukul pakai kayu," tutur Sandi saat menjajakan buku ke pengunjung warkop di Jalan Toddopuli, Makassar, Senin (28/3/2016).
Tidak berbeda jauh, nasib serupa dialami Putri Nabila Ramadhani (12). Bocah perempuan itu terpaksa jarang bersekolah sejak berjualan gogos (makanan goreng-gorengan) dan telur asin keliling Kota Makassar. Hal itu terjadi setelah ia diusir dari rumah nenek angkatnya dan tinggal kembali dengan kedua orang tuanya di Jalan Rappocini, Makassar. "Saya dilarang sekolah sebelum gogos habis terjual, sehingga terkadang terlambat dan kadang tak masuk ke sekolah karena jualan belum habis. Saya sendiri jualan sejak pukul 10.00 WITA hingga terkadang malam hari baru habis," tutur Nabila saat ditemui di Anjungan Pantai Losari Makassar. Siswa kelas 5 SD di Makassar itu mendapatkan bahan jualan dari seseorang yang tinggal di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Upah yang didapatkan dari keringatnya itu berkisar Rp20 ribu per hari. Menurut Nabila, uang itu untuk membayari keperluan keluarga di rumah dan keperluan sekolah.
Ditemui terpisah, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto menyebut apa yang dialami Nabila dan Sandi adalah bentuk eksploitasi anak. Menurut lelaki yang akrab disapa Danny, anak-anak seusia Nabila harusnya disibukkan dengan bersekolah, bukan mencari uang. Berdasarkan temuan itu, Danny langsung memerintahkan Dinas Sosial Makassar untuk mendata anak-anak yang dieksploitasi orang tuanya. Dinsos diminta untuk segera menangani dan mensosialisasikan kepada para orang tua untuk tidak mengeksploitasi anak di bawah umur. "Inl kan modus saja dengan memanfaatkan anak-anak yang seharusnya mereka harus kesekolah tidak di bebankan menggantikan posisi orangtuanya. Saya kira ini tugas Dinsos yang harus mendata dan menelusuri maraknya eksploitasi anak di Makassar," tutur Danny. (Sumber: http://regional.liputan6.com/ tanggal 29 Maret 2016)
Masalah utama yang diangkat dalam wacana di atas adalah ....
- Penderitaan anak-anak miskin di Makassar
- Alasan anak-anak bekerja sepulang sekolah di Makassar
- Semangat anak-anak di Makassar untuk membantu pekerjaan orang tua
- Bentuk eksploitasi anak di Makassar
- Kritik pemerintah Makassar kepada orang tua yang mempekerjakan anak-anaknya
Masalah utama yang diangkat oleh wacana adalah bentuk eksploitasi anak di Makassar. Hal ini dapat dilihat dari gagasan utama dari masing-masing paragraf, yaitu ada dua contoh anak yang mengalami eksploitasi anak untuk berjualan di Makassar.
Wajah bocah bernama Sandi (12) itu pucat. Kepada Liputan6.com, ia mengaku sedang sakit. Namun, siswa kelas 5 SD Katangka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu tidak bisa beristirahat karena takut ibunya marah. Sandi menuturkan sang ibu, Hasni, menyuruhnya berjualan buku-buku agama sepulang sekolah setiap hari. Jika menolak, pukulan tongkat kayu akan mendarat di tubuhnya. Karena membayangkan rasa sakit, ia tak berani pulang ke rumah sebelum pukul 22.00 WITA. "Mama tidak tahu saya sakit. Jadi pas pulang sekolah tadi, saya langsung ganti baju lalu pergi. Tawari orang buku. Karena kalau tidak pergi cari uang, langsung dipukul pakai kayu," tutur Sandi saat menjajakan buku ke pengunjung warkop di Jalan Toddopuli, Makassar, Senin (28/3/2016).
Tidak berbeda jauh, nasib serupa dialami Putri Nabila Ramadhani (12). Bocah perempuan itu terpaksa jarang bersekolah sejak berjualan gogos (makanan goreng-gorengan) dan telur asin keliling Kota Makassar. Hal itu terjadi setelah ia diusir dari rumah nenek angkatnya dan tinggal kembali dengan kedua orang tuanya di Jalan Rappocini, Makassar. "Saya dilarang sekolah sebelum gogos habis terjual, sehingga terkadang terlambat dan kadang tak masuk ke sekolah karena jualan belum habis. Saya sendiri jualan sejak pukul 10.00 WITA hingga terkadang malam hari baru habis," tutur Nabila saat ditemui di Anjungan Pantai Losari Makassar. Siswa kelas 5 SD di Makassar itu mendapatkan bahan jualan dari seseorang yang tinggal di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Upah yang didapatkan dari keringatnya itu berkisar Rp20 ribu per hari. Menurut Nabila, uang itu untuk membayari keperluan keluarga di rumah dan keperluan sekolah.
Ditemui terpisah, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto menyebut apa yang dialami Nabila dan Sandi adalah bentuk eksploitasi anak. Menurut lelaki yang akrab disapa Danny, anak-anak seusia Nabila harusnya disibukkan dengan bersekolah, bukan mencari uang. Berdasarkan temuan itu, Danny langsung memerintahkan Dinas Sosial Makassar untuk mendata anak-anak yang dieksploitasi orang tuanya. Dinsos diminta untuk segera menangani dan mensosialisasikan kepada para orang tua untuk tidak mengeksploitasi anak di bawah umur. "Inl kan modus saja dengan memanfaatkan anak-anak yang seharusnya mereka harus kesekolah tidak di bebankan menggantikan posisi orangtuanya. Saya kira ini tugas Dinsos yang harus mendata dan menelusuri maraknya eksploitasi anak di Makassar," tutur Danny. (Sumber: http://regional.liputan6.com/ tanggal 29 Maret 2016)
Perbaikan kata-kata yang bercetak tebal dalam paragraf ketiga wacana tersebut adalah ....
- Menyosialisasikan, kesekolah, di bebankan
- Menyosialisasikan, ke sekolah, di bebankan
- Mensosialisasikan, kesekolah, dibebankan
- Mensosialisasikan, ke sekolah, dibebankan
- Menyosialisasikan, ke sekolah, dibebankan
Perbaikan kata-kata yang bercetak tebal dalam paragraf ketiga wacana tersebut adalah mensosialisakan = menyosialisasikan, kesekolah = ke sekolah, di bebankan = dibebankan.
Wajah bocah bernama Sandi (12) itu pucat. Kepada Liputan6.com, ia mengaku sedang sakit. Namun, siswa kelas 5 SD Katangka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu tidak bisa beristirahat karena takut ibunya marah. Sandi menuturkan sang ibu, Hasni, menyuruhnya berjualan buku-buku agama sepulang sekolah setiap hari. Jika menolak, pukulan tongkat kayu akan mendarat di tubuhnya. Karena membayangkan rasa sakit, ia tak berani pulang ke rumah sebelum pukul 22.00 WITA. "Mama tidak tahu saya sakit. Jadi pas pulang sekolah tadi, saya langsung ganti baju lalu pergi. Tawari orang buku. Karena kalau tidak pergi cari uang, langsung dipukul pakai kayu," tutur Sandi saat menjajakan buku ke pengunjung warkop di Jalan Toddopuli, Makassar, Senin (28/3/2016).
Tidak berbeda jauh, nasib serupa dialami Putri Nabila Ramadhani (12). Bocah perempuan itu terpaksa jarang bersekolah sejak berjualan gogos (makanan goreng-gorengan) dan telur asin keliling Kota Makassar. Hal itu terjadi setelah ia diusir dari rumah nenek angkatnya dan tinggal kembali dengan kedua orang tuanya di Jalan Rappocini, Makassar. "Saya dilarang sekolah sebelum gogos habis terjual, sehingga terkadang terlambat dan kadang tak masuk ke sekolah karena jualan belum habis. Saya sendiri jualan sejak pukul 10.00 WITA hingga terkadang malam hari baru habis," tutur Nabila saat ditemui di Anjungan Pantai Losari Makassar. Siswa kelas 5 SD di Makassar itu mendapatkan bahan jualan dari seseorang yang tinggal di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Upah yang didapatkan dari keringatnya itu berkisar Rp20 ribu per hari. Menurut Nabila, uang itu untuk membayari keperluan keluarga di rumah dan keperluan sekolah.
Ditemui terpisah, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto menyebut apa yang dialami Nabila dan Sandi adalah bentuk eksploitasi anak. Menurut lelaki yang akrab disapa Danny, anak-anak seusia Nabila harusnya disibukkan dengan bersekolah, bukan mencari uang. Berdasarkan temuan itu, Danny langsung memerintahkan Dinas Sosial Makassar untuk mendata anak-anak yang dieksploitasi orang tuanya. Dinsos diminta untuk segera menangani dan mensosialisasikan kepada para orang tua untuk tidak mengeksploitasi anak di bawah umur. "Inl kan modus saja dengan memanfaatkan anak-anak yang seharusnya mereka harus kesekolah tidak di bebankan menggantikan posisi orangtuanya. Saya kira ini tugas Dinsos yang harus mendata dan menelusuri maraknya eksploitasi anak di Makassar," tutur Danny. (Sumber: http://regional.liputan6.com/ tanggal 29 Maret 2016)
Kritik yang tepat bagi pemerintah berdasarkan isi wacana tersebut adalah ....
- Peran pemerintah untuk menindaklanjuti eksploitasi anak di Makassar sudah baik
- Kurangnya peran pemerintah menyebabkan anak-anak di Makassar menderita perlakuan tak adil dari orang tua mereka
- Maraknya eksploitasi anak di Makassar sebaiknya segera ditindaklanjuti oleh pemerintah Makassar
- Sebaiknya orangtua dari anak-anak yang mengalami eksploitasi mendapatkan pendampingan intensif agar tidak mengalami hal yang sama kembali
- Seharusnya pemerintah pusat segera turun tangan menangani masalah ini agar tidak meluas ke daerah-daerah lainnya
Kritik adalah suatu ungkapan atau tanggapan mengenai baik atau buruknya suatu tindakan yang akan atau sudah dibuat. Kritik yang sesuai dengan isi wacana di atas adalah sebaiknya orangtua dari anak-anak yang mengalami eksploitasi mendapatkan pendampingan intensif agar tidak mengalami hal yang sama kembali.
Wajah bocah bernama Sandi (12) itu pucat. Kepada Liputan6.com, ia mengaku sedang sakit. Namun, siswa kelas 5 SD Katangka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu tidak bisa beristirahat karena takut ibunya marah. Sandi menuturkan sang ibu, Hasni, menyuruhnya berjualan buku-buku agama sepulang sekolah setiap hari. Jika menolak, pukulan tongkat kayu akan mendarat di tubuhnya. Karena membayangkan rasa sakit, ia tak berani pulang ke rumah sebelum pukul 22.00 WITA. "Mama tidak tahu saya sakit. Jadi pas pulang sekolah tadi, saya langsung ganti baju lalu pergi. Tawari orang buku. Karena kalau tidak pergi cari uang, langsung dipukul pakai kayu," tutur Sandi saat menjajakan buku ke pengunjung warkop di Jalan Toddopuli, Makassar, Senin (28/3/2016).
Tidak berbeda jauh, nasib serupa dialami Putri Nabila Ramadhani (12). Bocah perempuan itu terpaksa jarang bersekolah sejak berjualan gogos (makanan goreng-gorengan) dan telur asin keliling Kota Makassar. Hal itu terjadi setelah ia diusir dari rumah nenek angkatnya dan tinggal kembali dengan kedua orang tuanya di Jalan Rappocini, Makassar. "Saya dilarang sekolah sebelum gogos habis terjual, sehingga terkadang terlambat dan kadang tak masuk ke sekolah karena jualan belum habis. Saya sendiri jualan sejak pukul 10.00 WITA hingga terkadang malam hari baru habis," tutur Nabila saat ditemui di Anjungan Pantai Losari Makassar. Siswa kelas 5 SD di Makassar itu mendapatkan bahan jualan dari seseorang yang tinggal di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Upah yang didapatkan dari keringatnya itu berkisar Rp20 ribu per hari. Menurut Nabila, uang itu untuk membayari keperluan keluarga di rumah dan keperluan sekolah.
Ditemui terpisah, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto menyebut apa yang dialami Nabila dan Sandi adalah bentuk eksploitasi anak. Menurut lelaki yang akrab disapa Danny, anak-anak seusia Nabila harusnya disibukkan dengan bersekolah, bukan mencari uang. Berdasarkan temuan itu, Danny langsung memerintahkan Dinas Sosial Makassar untuk mendata anak-anak yang dieksploitasi orang tuanya. Dinsos diminta untuk segera menangani dan mensosialisasikan kepada para orang tua untuk tidak mengeksploitasi anak di bawah umur. "Inl kan modus saja dengan memanfaatkan anak-anak yang seharusnya mereka harus kesekolah tidak di bebankan menggantikan posisi orangtuanya. Saya kira ini tugas Dinsos yang harus mendata dan menelusuri maraknya eksploitasi anak di Makassar," tutur Danny. (Sumber: http://regional.liputan6.com/ tanggal 29 Maret 2016)
Apa yang akan dilakukan oleh Dinas Sosial Makassar untuk mengatasi masalah yang terjadi dalam wacana?
- Mendata dan menelusuri maraknya eksploitasi anak di Makassar dan menyosialisasikan kepada para orangtua untuk tidak mengeksploitasi anak di bawah umur
- Mendata anak-anak yang dieksploitasi orangtuanya dan melarang orangtua untuk mempekerjakan anak-anak di bawah umur
- Menyosialisasikan kepada para orangtua untuk tidak mengeksploitasi anak di bawah umur dan mendampingi anak-anak yang dieksploitasi agar tidak mengalami trauma
- Pendampingan menyeluruh baik kepada anak-anak maupun orangtua sehingga kasus eksploitasi ini tidak semakin berkembang
- Mendata dan menelusuri kemungkinan adanya eksploitasi anak di Makassar dan menyosialisasikan kepada para orangtua untuk tidak mempekerjakan anak pada jam sekolah
Berdasarkan informasi dalam wacana yang akan dilakukan oleh Dinas Sosial Makassar untuk mengatasi masalah yang terjadi adalah mendata dan menelusuri maraknya eksploitasi anak di Makassar dan menyosialisasikan kepada para orang tua untuk tidak mengeksploitasi anak di bawah umur. Hal itu bisa dilihat pada paragraf ketiga kalimat ke-4.
Demikian kumpulan contoh soal dan pembahasan TIU SKD paket 91. Silahkan pelajari soal-soal paket lainnya ya.
Jika ada soal yang masih belum kamu mengerti, silahkan pelajari lagi materi terkait di aplikasi ini ya. Atau bagikan artikel ini ke teman-teman kamu, biar kita bisa belajar bareng.
Materi TWK
Materi TIU
Materi TKP
Soal TWK
Soal TIU
Soal TKP