Berikut ini contoh soal latihan Kompetensi Sosial Kultural PPPK - paket 10 yang sudah dilengkapi pembahasan. Semangat belajar! ✨
- Mendekati anak magang secara sembunyi-sembunyi untuk memberikan dukungan moral agar ia kuat bertahan.
- Melaporkan tindakan senior tersebut kepada bagian SDM agar segera mendapatkan surat peringatan.
- Berbicara empat mata dengan senior tersebut untuk menyadarkan dampak negatif dari tindakannya.
- Memutuskan untuk tidak ikut campur karena status anak magang hanya bersifat sementara di kantor.
- Poin 4 : C
- Poin 3 : A
- Poin 2 : B
- Poin 1 : D
Menghadapi perlakuan yang tidak etis di tempat kerja membutuhkan keberanian moral (moral courage). Kepedulian sosial harus diimbangi dengan strategi resolusi konflik yang tidak merusak keharmonisan tim.
- Poin 4 (C): Melakukan pendekatan personal langsung ke sumber masalah. Ini menunjukkan kedewasaan sosial untuk mengoreksi perilaku tanpa menjatuhkan wibawa senior di depan umum.
- Poin 3 (A): Memberikan dukungan psikologis kepada korban adalah hal baik, tetapi sayangnya tidak menghentikan perlakuan buruk pelaku.
- Poin 2 (B): Melaporkan langsung berpotensi menyelesaikan masalah lewat jalur formal, namun melewati asas kekeluargaan dan penyelesaian interpersonal.
- Poin 1 (D): Pembiaran mutlak terhadap toksisitas kerja; sangat bertentangan dengan kompetensi perekat bangsa.
- Menginisiasi agar staf muda mau secara proaktif dan sabar mendampingi para senior belajar sistem baru.
- Membiarkan para senior menyesuaikan diri dengan ritme mereka sendiri tanpa memberikan intervensi apa pun.
- Menjelaskan kepada staf senior bahwa kemajuan teknologi adalah keniscayaan yang harus mereka terima.
- Menyarankan atasan untuk memisahkan jenis pekerjaan secara manual untuk senior dan digital untuk junior.
- Poin 4 : A
- Poin 3 : C
- Poin 2 : D
- Poin 1 : B
Transformasi sering kali diwarnai oleh resistance to change (penolakan terhadap perubahan). Sebagai agen perekat bangsa, ASN harus mampu menjembatani gap antargenerasi agar tercipta kolaborasi harmonis.
- Opsi A (Poin 4): Mengubah sinisme menjadi kolaborasi dengan aksi nyata. Melibatkan staf muda untuk merangkul senior menghilangkan rasa terancam.
- Opsi C (Poin 3): Memberikan edukasi kognitif itu penting, namun tanpa pendampingan praktis, hal ini bisa dianggap menggurui.
- Opsi D (Poin 2): Menawarkan solusi jangka pendek (penghindaran) yang justru melanggengkan fragmentasi antargenerasi di kantor.
- Opsi B (Poin 1): Pembiaran murni yang berisiko menggagalkan program transformasi digital instansi.
- Hadir sebentar untuk menghormati atasan, lalu pamit pulang dengan sopan sebelum sesi minum dimulai.
- Menolak hadir sejak awal dengan memberikan alasan sedang ada urusan keluarga mendadak agar tidak canggung.
- Tetap hadir merayakan bersama tim, dan menolak tawaran minuman keras tersebut dengan cara yang sopan.
- Menolak hadir dengan tegas karena merasa lingkungan perayaan tersebut melanggar moralitas Anda.
- Poin 4 : C
- Poin 3 : A
- Poin 2 : B
- Poin 1 : D
Situasi ini menguji kapasitas toleransi sekaligus integritas individu. Kedewasaan sosial kultural ditunjukkan ketika seseorang mampu membaur di lingkungan yang berbeda tanpa mengkompromikan prinsip personalnya.
- Poin 4 (C): Menggambarkan sikap terbuka, toleran, fleksibel secara sosial, namun tetap kokoh memegang prinsip keyakinan tanpa menyinggung pihak lain.
- Poin 3 (A): Ada upaya menghargai undangan atasan, tetapi juga menunjukkan adanya penghindaran ringan terhadap ketidaknyamanan.
- Poin 2 (B): Mencari jalan pintas dengan berbohong untuk menghindari konflik batin; bukan ciri integritas profesional.
- Poin 1 (D): Sikap kaku dan eksklusif yang menolak keberagaman gaya hidup dan merusak hubungan sosial dengan tim.
- Menyarankan atasan untuk memblokir akun tersebut dan menghapus komentarnya tanpa perlu memberikan balasan.
- Merancang draf balasan yang netral dan mengedepankan nilai persatuan, lalu mendiskusikannya dengan atasan sebelum diunggah.
- Mengabaikan instruksi atasan secara diam-diam karena Anda yakin diam adalah langkah terbaik demi institusi.
- Membalas komentar tersebut dengan bahasa yang tegas untuk menunjukkan bahwa instansi tidak menoleransi rasisme.
- Poin 4 : B
- Poin 3 : D
- Poin 2 : A
- Poin 1 : C
Pembahasan:
Soal ini mengukur kompetensi Komunikasi dan Kemampuan Berhubungan Sosial dalam situasi krisis (HOTS). Menanggapi isu SARA di ruang publik memerlukan kehati-hatian tingkat tinggi.
- Opsi B (Poin 4): Sangat profesional. Anda patuh pada atasan (menyiapkan draf) namun tetap bertindak sebagai filter atau advisor (mengedepankan narasi netral dan meminta persetujuan). Ini menunjukkan analisis risiko yang matang.
- Opsi D (Poin 3): Patuh pada atasan dan menunjukkan sikap anti-rasisme, namun memiliki risiko backfire jika ketegasan tersebut terkesan arogan di media sosial.
- Opsi A (Poin 2): Menghindari masalah, namun pemblokiran tanpa klarifikasi sering kali menimbulkan spekulasi negatif dari warganet.
- Opsi C (Poin 1): Menunjukkan pembangkangan terhadap atasan dan tidak berani mengomunikasikan kekhawatiran secara terbuka.
- Tetap duduk bersama mereka sambil menjadi pendengar yang baik meskipun tidak ikut memberikan tanggapan.
- Menyimak sejenak lalu mencari celah untuk melempar topik obrolan ringan yang lebih umum agar bisa berpartisipasi.
- Memilih untuk meninggalkan ruang istirahat lebih awal dan kembali ke meja kerja untuk menghindari kecanggungan.
- Mencoba memotong pembicaraan mereka dan mengalihkan ke topik pekerjaan agar semua orang bisa mengerti.
- Poin 4 : B
- Poin 3 : A
- Poin 2 : C
- Poin 1 : D
Pembahasan:
Soal ini menguji Kemampuan Beradaptasi dan Hubungan Sosial. Pegawai dituntut mampu menempatkan diri secara luwes di berbagai situasi sosial tanpa memaksakan diri atau mengucilkan diri.
- Opsi B (Poin 4): Menunjukkan keterampilan sosial yang prima (interpersonal skill). Anda tidak memalsukan ketertarikan, namun secara cerdas mencari titik temu obrolan agar suasana tetap hangat.
- Opsi A (Poin 3): Cukup baik sebagai bentuk penghormatan dan empati, meskipun Anda cenderung pasif dalam dinamika kelompok.
- Opsi C (Poin 2): Menarik diri dari pergaulan sosial yang berpotensi memunculkan jarak antara Anda dan rekan kerja.
- Opsi D (Poin 1): Kurang beretika. Memotong pembicaraan menunjukkan egoisme dan ketidakmampuan menghargai ketertarikan orang lain.
- Mengajarkan bagian yang paling mendasar terlebih dahulu secara berulang-ulang sampai ia paham.
- Mendampinginya mempraktikkan langsung setiap modul aplikasi secara bertahap dengan sabar.
- Membuatkan modul panduan praktis bergambar dengan tulisan besar agar ia bisa belajar mandiri.
- Meminta bantuan rekan kerja lain yang usianya lebih muda untuk ikut mendampingi proses belajarnya.
- Berpura-pura tidak melihatnya agar tidak menciptakan suasana yang canggung di tempat umum.
- Menunggu dia menyapa duluan untuk melihat apakah dia sudah menurunkan egonya atau belum.
- Menyapa dengan senyuman dan anggukan santun untuk tetap menjaga hubungan sosial yang baik.
- Menghampirinya dan mengajaknya mengobrol ringan seputar urusan belanjaan di pasar tersebut.
Demikian kumpulan contoh soal dan pembahasan Kompetensi Sosial Kultural PPPK paket 10. Silahkan pelajari paket soal lainnya supaya kamu makin terbiasa dengan tipe soal PPPK yang sering muncul.
Jika ada soal yang belum dipahami, silakan pelajari kembali materinya ya. Atau bagikan artikel ini ke teman-teman kamu, biar kita bisa belajar bareng.
Materi Kompetensi Sosial Kultural
Daftar Soal Kompetensi Sosial Kultural