Berikut ini contoh soal latihan Kompetensi Sosial Kultural PPPK - paket 3 yang sudah dilengkapi pembahasan. Semangat belajar! ✨
- Mengajak rekan-rekan berdiskusi santai tentang pentingnya menghargai martabat manusia di balik tindakan beramal.
- Menyampaikan ketidaksetujuan Anda secara langsung dengan alasan bahwa video tersebut mengeksploitasi kemiskinan.
- Mengabaikan obrolan tersebut dan kembali bekerja karena setiap orang bebas memiliki penilaian yang berbeda.
- Menegur rekan-rekan tersebut karena secara tidak langsung mereka mendukung tindakan yang tidak memanusiakan manusia.
- Poin 4 : A
- Poin 3 : B
- Poin 2 : C
- Poin 1 : D
Kompetensi Empati dan Integritas Sosial. Menghadapi perbedaan pandangan mengenai nilai kemanusiaan di lingkungan kerja memerlukan pendekatan yang elegan agar pesan tersampaikan tanpa menggurui.
- Poin 4 (A): Paling tepat. Menumbuhkan kesadaran kolektif melalui diskusi santai sangat efektif tanpa membuat orang lain merasa dihakimi, mengedepankan nilai martabat manusia.
- Poin 3 (B): Cukup baik, menunjukkan ketegasan prinsip (integritas), namun penyampaian ketidaksetujuan secara langsung berpotensi memicu perdebatan defensif.
- Poin 2 (C): Sikap pasif. Meskipun menghindari konflik, Anda kehilangan kesempatan untuk membawa pengaruh positif di lingkungan kerja.
- Poin 1 (D): Konfrontatif dan menghakimi, dapat merusak hubungan interpersonal dengan rekan kerja.
- Melaporkan temuan ini kepada pimpinan disertai data bukti agar sistem segera dievaluasi dan diperbaiki.
- Membaca kembali secara manual berkas pelamar yang ditolak sistem untuk memastikan tidak ada diskriminasi.
- Mendiskusikan anomali ini dengan rekan satu tim untuk mencari tahu mengapa sistem bisa memiliki bias seperti itu.
- Membiarkan sistem bekerja karena hal tersebut sudah menjadi keputusan manajemen dalam pengadaan teknologi.
- Poin 4 : A
- Poin 3 : B
- Poin 2 : C
- Poin 1 : D
Kompetensi Kepekaan terhadap Perbedaan dan Inklusivitas. Teknologi harus dikontrol oleh nilai-nilai sosial budaya agar tidak mendiskriminasi.
- Poin 4 (A): Solusi sistemik. Melaporkan kepada pembuat kebijakan dengan data empiris menunjukkan tanggung jawab dan komitmen tinggi terhadap keadilan birokrasi.
- Poin 3 (B): Solusi teknis dan taktis. Memeriksa ulang secara manual menunjukkan kepedulian, namun hanya menyelesaikan masalah jangka pendek tanpa memperbaiki akar masalah.
- Poin 2 (C): Hanya sebatas berdiskusi tanpa tindakan konkret yang berdampak langsung pada nasib pelamar yang dirugikan.
- Poin 1 (D): Sikap apatis dan mengabaikan nilai keadilan sosial demi efisiensi dan prosedur semata.
- Mengabaikan unggahan tersebut karena berdebat di ruang publik seringkali tidak rasional dan tidak menyelesaikan masalah.
- Menghubunginya secara pribadi untuk bertukar pandangan dengan sopan tanpa niat saling menjatuhkan.
- Memberikan komentar berupa penjelasan fakta objektif mengenai kebijakan tersebut dengan bahasa yang netral.
- Mendebat argumennya di kolom komentar agar orang lain tidak terpengaruh oleh pandangannya yang keliru.
- Poin 4 : A
- Poin 3 : B
- Poin 2 : C
- Poin 1 : D
Kompetensi Membangun Hubungan Sosial dan Pengendalian Diri. Sebagai pelayan publik, menjaga keharmonisan di dunia maya sama pentingnya dengan di dunia nyata.
- Poin 4 (A): Paling bijaksana. Menahan diri dari perdebatan publik (comment section) mencegah eskalasi konflik yang seringkali tidak produktif dan emosional.
- Poin 3 (B): Langkah persuasif yang baik jika memang ingin berdiskusi. Jalur pribadi (direct message) meminimalisir keributan publik.
- Poin 2 (C): Walaupun objektif, berkomentar di ruang publik dapat memancing debat panjang dari netizen lain.
- Poin 1 (D): Konfrontatif dan berpotensi merusak hubungan baik serta menjatuhkan citra diri di media sosial.
- Segera membalas pesan di grup tersebut dengan menyertakan tautan klarifikasi (hoax buster) agar semua anggota grup tercerahkan.
- Menghubungi rekan tersebut secara pribadi, memberikan fakta sebenarnya, dan memintanya segera menghapus tautan tersebut.
- Melaporkan tindakan rekan tersebut kepada atasan karena telah melanggar kode etik ASN terkait penyebaran hoaks SARA.
- Memarahi rekan tersebut di grup agar ia mendapat efek jera dan tidak mengulangi perbuatannya.
- Poin 4 : B
- Poin 3 : A
- Poin 2 : C
- Poin 1 : D
Kompetensi Perekat Bangsa. Hoaks yang mengandung SARA berpotensi besar merusak persatuan dan iklim kerja instansi. Penanganan harus cepat namun tetap beretika.
- Poin 4 (B): Solusi paling proporsional. Menegur secara pribadi menjaga wajah (face-saving) rekan tersebut sambil memintanya menghapus unggahan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
- Poin 3 (A): Memberikan fakta yang benar di grup sangat penting untuk menetralisir hoaks, namun berpotensi membuat rekan tersebut merasa dipermalukan di depan umum.
- Poin 2 (C): Membawa masalah ini langsung ke pimpinan tanpa usaha penyelesaian interpersonal terlebih dahulu (bypass) dapat menciptakan iklim kerja yang penuh kecurigaan.
- Poin 1 (D): Sangat reaktif dan merusak etika komunikasi antarkolega.
- Menanyakan arti pembicaraan mereka dengan nada bercanda agar Anda bisa ikut masuk ke dalam obrolan.
- Mengingatkan mereka secara personal setelah rapat selesai mengenai pentingnya menjaga kenyamanan rekan yang berbeda daerah.
- Menyela pembicaraan dengan sopan dan meminta mereka menggunakan bahasa Indonesia agar semua dapat berpartisipasi.
- Menunjukkan ekspresi wajah bingung dan tidak suka agar mereka menyadari bahwa tindakan tersebut mengganggu kenyamanan bersama.
- Poin 4 : C
- Poin 3 : B
- Poin 2 : A
- Poin 1 : D
Kompetensi Membangun Hubungan Sosial dan Komunikasi Inklusif. Penggunaan bahasa daerah di tempat kerja multikultural dapat menciptakan in-group/out-group feeling.
- Poin 4 (C): Mengedepankan asertivitas dan kesopanan. Menyela dengan santun untuk mengingatkan penggunaan bahasa pemersatu mengembalikan forum ke suasana inklusif tanpa ada yang merasa diserang.
- Poin 3 (B): Pendekatan persuasif setelah acara. Baik, namun selama rapat berlangsung, rasa keterasingan rekan-rekan yang lain belum teratasi.
- Poin 2 (A): Usaha membaur yang cukup baik, namun tidak menyelesaikan akar masalah inklusivitas karena bahasa yang digunakan tetap eksklusif.
- Poin 1 (D): Komunikasi non-verbal yang negatif (agresif-pasif), tidak menyelesaikan masalah dan justru menambah ketegangan.
- Melaporkannya kepada pihak atasan agar rekan tersebut diberikan pembinaan ideologi negara.
- Menegurnya dengan keras di depan umum agar dia tahu bahwa tindakannya keliru sebagai aparatur.
- Tetap mengikuti kegiatan nasionalisme dengan khidmat dan memberikan contoh positif tanpa mendebatnya.
- Mengajaknya berdiskusi santai mengenai esensi nasionalisme dan tanggung jawab kita sebagai aparatur.
- Menghubungi ketua RT untuk memprotes penutupan jalan yang merugikan kepentingan umum tersebut.
- Mencari tempat parkir alternatif sementara waktu dan ikut memaklumi acara tetangga tersebut.
- Meminta panitia acara secara tegas memindahkan tenda agar mobil Anda bisa lewat dan parkir.
- Menitipkan kendaraan di tempat lain sambil menyampaikan keluhan ringan kepada tetangga usai acara.
Demikian kumpulan contoh soal dan pembahasan Kompetensi Sosial Kultural PPPK paket 3. Silahkan pelajari paket soal lainnya supaya kamu makin terbiasa dengan tipe soal PPPK yang sering muncul.
Jika ada soal yang belum dipahami, silakan pelajari kembali materinya ya. Atau bagikan artikel ini ke teman-teman kamu, biar kita bisa belajar bareng.
Materi Kompetensi Sosial Kultural
Daftar Soal Kompetensi Sosial Kultural