Berikut ini contoh soal latihan Kompetensi Sosial Kultural PPPK - paket 9 yang sudah dilengkapi pembahasan. Semangat belajar! ✨
- Membiarkan saja karena warga tersebut adalah tanggung jawab antrean di loket rekan Anda.
- Menegur rekan kerja secara langsung di depan warga agar ia merasa malu dan segera melayani.
- Berinisiatif memanggil warga tersebut ke meja Anda dan melayaninya dengan ramah serta sabar.
- Melaporkan sikap diskriminatif rekan kerja tersebut kepada atasan setelah jam pelayanan selesai.
- Poin 4 : C
- Poin 3 : D
- Poin 2 : B
- Poin 1 : A
Pembahasan:
Konteks ini menilai indikator Empati dan Anti Diskriminasi di lingkungan kerja. Sikap abai rekan kerja tidak boleh dibiarkan, namun penanganannya harus berorientasi pada pelayanan masyarakat terlebih dahulu.
- Opsi C (Poin 4): Customer oriented. Anda langsung mengambil alih pelayanan demi memastikan hak warga terpenuhi tanpa diskriminasi.
- Opsi D (Poin 3): Tindakan prosedural yang benar untuk iklim kerja yang sehat, tetapi tidak memberikan solusi instan pada warga yang sedang kebingungan.
- Opsi B (Poin 2): Mengutamakan konfrontasi yang dapat merusak suasana pelayanan dan menjatuhkan wibawa instansi.
- Opsi A (Poin 1): Pembiaran yang berarti Anda ikut serta melanggengkan diskriminasi layanan.
- Menjauhi rekan tersebut secara personal agar tidak ikut terseret jika suatu saat ketahuan.
- Mengingatkannya secara privat bahwa hal tersebut melanggar aturan integritas instansi pelayanan.
- Mengumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu untuk kemudian diserahkan kepada pihak pengawas.
- Memaklumi hal tersebut karena ia juga sering meringankan beban kerja Anda di kantor.
- Poin 4 : B
- Poin 3 : C
- Poin 2 : A
- Poin 1 : D
Pembahasan:
Menguji aspek Integritas Moral dan Penyelesaian Konflik. Menghadapi orang yang berjasa bagi kita yang melakukan pelanggaran adalah dilema etis (HOTS).
- Opsi B (Poin 4): Pendekatan persuasif dan profesional. Mengingatkan secara privat menghargai hubungan baik tanpa mengorbankan integritas institusi.
- Opsi C (Poin 3): Benar secara aturan whistleblowing, namun terlalu kaku jika dilakukan tanpa upaya pencegahan atau teguran awal sesama kolega.
- Opsi A (Poin 2): Menyelamatkan diri sendiri, tidak peduli dengan perbaikan moral rekan kerja.
- Opsi D (Poin 1): Sangat fatal. Kompromi terhadap korupsi/gratifikasi hanya karena utang budi.
- Menghindari percakapan berbau politik di rumah sama sekali demi menjaga keharmonisan keluarga.
- Tetap menyuarakan pandangan Anda secara rasional untuk membuktikan bahwa pilihan Anda benar.
- Mendengarkan pandangan orang tua dengan hormat tanpa harus mengubah prinsip pilihan Anda.
- Mengikuti pilihan orang tua sebagai bentuk bakti dan kepatuhan anak kepada orang tua.
- Poin 4 : C
- Poin 3 : A
- Poin 2 : B
- Poin 1 : D
Pembahasan:
Mengukur Pengendalian Diri dan Toleransi dalam Lingkup Terkecil (Keluarga). Perbedaan pendapat adalah wajar, namun menuntut kematangan emosional dalam merespons.
- Opsi C (Poin 4): Pilihan paling dewasa. Menunjukkan penghormatan (bakti) dan kemauan mendengar tanpa kehilangan pendirian logis dan asas demokrasi.
- Opsi A (Poin 3): Mengamankan situasi (play safe), menghindari konflik, namun menutup ruang diskusi sehat di keluarga.
- Opsi B (Poin 2): Terlalu ngotot, berpotensi memicu debat kusir yang merusak keharmonisan rumah tangga.
- Opsi D (Poin 1): Mengabaikan hak suara dan kebebasan berpikir secara independen karena tekanan sosial/keluarga.
- Menjelaskan kepada warga sekitar bahwa pakaian rekan tersebut sudah sesuai standar aturan kantor.
- Mengingatkan rekan tersebut secara pribadi dan ramah mengenai norma kesopanan masyarakat lokal.
- Membiarkan saja karena urusan berpakaian adalah hak kebebasan personal selama tidak melanggar aturan.
- Menyarankannya untuk memodifikasi gaya berpakaian agar tidak lagi menjadi pusat perhatian warga.
- Poin 4 : B
- Poin 3 : D
- Poin 2 : A
- Poin 1 : C
Dalam lingkungan dengan keberagaman budaya, seorang ASN dituntut memiliki kepekaan untuk menjembatani aturan formal instansi dengan norma tak tertulis di masyarakat lokal.
- Poin 4 (B): Pendekatan persuasif dan privat. Ini menjaga martabat rekan kerja sekaligus menunjukkan penghormatan terhadap norma lokal yang berlaku.
- Poin 3 (d): Memberikan arahan yang praktis, namun penekanannya sekadar menghindari atensi warga, bukan menumbuhkan pemahaman budaya.
- Poin 2 (A): Cenderung defensif. Meskipun benar secara aturan, mendebat masyarakat dapat memperburuk citra instansi.
- Poin 1 (C): Sikap apatis dan egosentris yang mengabaikan keharmonisan hubungan antara instansi dan masyarakat sekitar.
- Menyela dengan sopan dan mengingatkan audiens untuk menggunakan bahasa Indonesia demi kelancaran rapat.
- Membantu menerjemahkan diskusi tersebut secara berbisik agar staf pendatang tetap bisa mengikuti jalannya rapat.
- Menyampaikan keluhan kepada pimpinan seusai rapat terkait kendala komunikasi yang baru saja terjadi.
- Diam saja dan hanya berfokus mencatat pada bagian rapat yang menggunakan bahasa Indonesia.
- Poin 4 : A
- Poin 3 : B
- Poin 2 : C
- Poin 1 : D
Komunikasi yang inklusif sangat esensial dalam lingkungan kerja yang majemuk. Penggunaan bahasa daerah dalam forum resmi dapat menciptakan eksklusivitas yang menghambat kinerja tim.
- Poin 4 (A): Mengambil inisiatif secara asertif dan sopan di momen yang tepat untuk memastikan semua anggota dapat berpartisipasi secara setara.
- Poin 3 (B): Menunjukkan empati individual dengan membantu menerjemahkan, namun tindakan ini bersifat pasif dan tidak memperbaiki budaya rapat secara keseluruhan.
- Poin 2 (C): Evaluatif namun lambat. Rapat terlanjur berjalan kurang efektif bagi staf pendatang.
- Poin 1 (D): Menunjukkan ketidakpedulian terhadap dinamika dan keutuhan kelompok kerja.
- Menhubungi rekan tersebut secara pribadi dan memintanya untuk segera menghapus unggahan demi nama baik instansi.
- Melaporkan akun media sosial tersebut kepada unit penegak kode etik kantor untuk ditindaklanjuti secara resmi.
- Memberikan komentar di unggahan tersebut untuk meluruskan opini negatifnya agar publik melihat sisi yang netral.
- Menghindari keterlibatan karena hal tersebut merupakan hak berekspresi pribadi di luar ranah kedinasan.
- Menegur anak tersebut secara langsung dengan tegas agar ia tidak mengulangi perbuatannya.
- Mengajak anak itu merapikan kembali tanaman bersama-sama dengan bahasa yang merangkul.
- Menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuanya saat suasana santai agar tidak salah paham.
- Memperbaiki sendiri tanaman yang rusak dan memaklumi kejadian tersebut sebagai kenakalan anak-anak.
Demikian kumpulan contoh soal dan pembahasan Kompetensi Sosial Kultural PPPK paket 9. Silahkan pelajari paket soal lainnya supaya kamu makin terbiasa dengan tipe soal PPPK yang sering muncul.
Jika ada soal yang belum dipahami, silakan pelajari kembali materinya ya. Atau bagikan artikel ini ke teman-teman kamu, biar kita bisa belajar bareng.
Materi Kompetensi Sosial Kultural
Daftar Soal Kompetensi Sosial Kultural